
Jakarta – Kopi dapat menjadi bagian dari pola makan yang sehat jika dikonsumsi secara bijak. Selain membantu meningkatkan kewaspadaan, minuman ini mengandung berbagai senyawa bioaktif yang sedang banyak diteliti kaitannya dengan kesehatan jantung, hati, dan fungsi tubuh lainnya.
Sejumlah penelitian mengaitkan konsumsi kopi dalam jumlah wajar dengan risiko yang lebih rendah terhadap beberapa gangguan kesehatan, termasuk penyakit hati tertentu. Kandungan polifenol dan senyawa antioksidan di dalam kopi diduga ikut berperan dalam efek tersebut.
Meski demikian, manfaat kopi dapat berkurang jika cara mengonsumsinya tidak tepat. Tambahan gula berlebihan, pemilihan produk yang tidak sesuai dengan kondisi tubuh, hingga asupan kafein yang terlalu tinggi perlu diperhatikan.
Dikutip dari Food NDTV, berikut beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari saat minum kopi:
1. Membuat kopi terlalu manis
Secangkir kopi hitam memiliki kalori yang relatif rendah. Namun, jumlah kalori dapat meningkat cukup banyak ketika ditambahkan gula, sirup, krimer manis, atau berbagai topping.
Terlalu banyak gula juga dapat membuat asupan gula harian mudah berlebihan. Karena itu, orang yang ingin memperoleh manfaat kopi tanpa tambahan kalori yang tidak perlu sebaiknya membatasi pemanis.
Bila tetap menginginkan rasa manis, gunakan pemanis dalam jumlah wajar dan perhatikan kandungan produk yang dipilih.
2. Menganggap kopi organik selalu lebih sehat
Ada anggapan bahwa kopi organik otomatis memberikan manfaat kesehatan yang lebih besar dibandingkan kopi biasa. Padahal, label organik lebih berkaitan dengan cara budidaya dan standar produksi, bukan jaminan bahwa kopi tersebut memiliki manfaat kesehatan yang jauh lebih tinggi.
Yang lebih penting adalah memilih produk berkualitas, disimpan dengan baik, dan dikonsumsi dalam jumlah sesuai. Kekhawatiran mengenai paparan pestisida juga tidak berarti seluruh kopi nonorganik berbahaya untuk dikonsumsi.
Jadi, memilih kopi organik boleh saja, tetapi bukan merupakan syarat agar minum kopi menjadi sehat.
3. Mengabaikan kondisi tubuh saat memilih kopi
Tidak semua orang memberikan respons yang sama terhadap kopi. Bagi sebagian orang yang mengalami refluks asam atau GERD, kopi dapat memperburuk keluhan seperti rasa panas di dada atau asam lambung naik.
Jenis biji, tingkat sangrai, cara seduh, serta kandungan kafein dapat memengaruhi respons setiap orang. Kopi dengan tingkat sangrai lebih gelap sering kali memiliki keasaman yang lebih rendah dibandingkan beberapa kopi sangrai ringan, meski hal ini tetap bergantung pada jenis biji dan proses pengolahannya.
Karena itu, tidak ada satu jenis kopi yang otomatis paling aman untuk semua penderita GERD. Cara terbaik adalah mengenali pemicu pribadi dan menyesuaikan jenis maupun jumlah kopi yang dikonsumsi.
Perhatikan juga total kafein harian
Selain cara memilih kopi, jumlah konsumsi juga tidak kalah penting. Asupan kafein yang terlalu tinggi dapat menyebabkan efek seperti jantung berdebar, rasa gelisah, sakit kepala, dan gangguan tidur pada orang yang sensitif.
Untuk kebanyakan orang dewasa sehat, FDA menyebut hingga sekitar 400 miligram kafein per hari umumnya masih berada dalam batas yang dapat ditoleransi. Namun, kebutuhan setiap orang bisa berbeda, terutama pada kondisi kesehatan tertentu atau bagi mereka yang sangat sensitif terhadap kafein.
Waktu minum pun sebaiknya diperhatikan. Mengonsumsi kopi terlalu dekat dengan waktu tidur dapat mengurangi kualitas tidur. Karena efek kafein bisa bertahan selama beberapa jam, sebagian orang perlu menghentikan konsumsi kopi lebih awal pada siang atau sore hari.
Kopi juga mengandung air dan pada jumlah biasa tidak selalu menyebabkan dehidrasi. Meski begitu, tetap mencukupi kebutuhan cairan dengan minum air putih merupakan kebiasaan yang baik.
Pada akhirnya, kopi dapat menjadi bagian dari pola hidup sehat selama porsinya terkendali dan tidak dipenuhi tambahan gula. Pilih jenis kopi yang sesuai dengan kondisi tubuh, perhatikan respons terhadap kafein, dan hindari konsumsi berlebihan agar manfaatnya tidak berubah menjadi masalah kesehatan.
