
Jakarta – Kopi tak hanya dikenal sebagai minuman yang membantu mengusir kantuk dan meningkatkan fokus. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa konsumsi kopi dalam jumlah tertentu berpotensi menurunkan risiko demensia.
Selama ini, banyak orang memilih kopi sebagai teman beraktivitas berkat kandungan kafeinnya. Senyawa tersebut bekerja merangsang sistem saraf pusat sehingga tubuh terasa lebih berenergi, kewaspadaan meningkat, dan konsentrasi menjadi lebih baik.
Di balik manfaat tersebut, kopi ternyata juga dikaitkan dengan kesehatan otak. Temuan terbaru yang dikutip dari Fox News mengungkap bahwa konsumsi kopi secara rutin dapat memberikan perlindungan terhadap penurunan fungsi kognitif.
Penelitian observasional yang dipublikasikan dalam The Journal of the American Medical Association (JAMA) melibatkan lebih dari 130.000 dokter dan tenaga kesehatan di Amerika Serikat. Para peneliti mengikuti perkembangan para peserta selama hampir empat dekade untuk melihat hubungan antara konsumsi minuman berkafein dan risiko demensia.
Hasil analisis menunjukkan bahwa konsumsi sekitar dua hingga tiga cangkir kopi berkafein per hari berkaitan dengan penurunan risiko demensia. Selain itu, peneliti juga menemukan adanya kisaran konsumsi kafein yang dinilai paling optimal dalam memberikan manfaat bagi kesehatan otak.
Sebelumnya, sejumlah penelitian memang telah mengkaji hubungan kopi dengan demensia. Namun, hasilnya belum konsisten karena keterbatasan jumlah peserta maupun lamanya masa pengamatan.
Untuk memperoleh gambaran yang lebih akurat, tim peneliti menggunakan data dari Nurses’ Health Study dan Health Professionals Follow-up Study, dua studi jangka panjang yang memantau kondisi kesehatan para tenaga medis sejak usia paruh baya hingga lanjut usia.
Selama masa pemantauan yang mencapai 43 tahun, peserta secara berkala mengisi kuesioner mengenai pola makan setiap empat tahun. Informasi tersebut kemudian dibandingkan dengan perkembangan fungsi kognitif dan diagnosis demensia yang muncul sepanjang penelitian.
Metode pengamatan jangka panjang ini memungkinkan peneliti melihat perubahan kebiasaan konsumsi kopi dan teh dari waktu ke waktu, sekaligus mengevaluasi dampaknya terhadap kesehatan otak.
Peneliti juga mempertimbangkan berbagai faktor lain yang dapat memengaruhi hasil, seperti kebiasaan merokok, tingkat aktivitas fisik, hingga riwayat penyakit tertentu. Dengan begitu, hubungan antara asupan kafein dan risiko demensia dapat dianalisis secara lebih spesifik.
Dari hasil akhir penelitian, peserta dengan konsumsi kafein lebih tinggi diketahui memiliki risiko demensia sekitar 18 persen lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang atau tidak mengonsumsi minuman berkafein. Kelompok tersebut juga mencatat skor yang lebih baik dalam berbagai tes kemampuan kognitif.
Manfaat paling optimal terlihat pada orang yang rutin mengonsumsi dua hingga tiga cangkir kopi berkafein atau satu hingga dua cangkir teh setiap hari.
Menurut para peneliti, baik kopi maupun teh sama-sama mengandung senyawa bioaktif seperti kafein dan polifenol. Kedua komponen ini diyakini mampu membantu mengurangi peradangan, melindungi sel dari kerusakan, serta mendukung fungsi otak sehingga risiko penurunan kognitif dapat berkurang.
