
Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) kerap terjadi ketika musim kemarau tiba. Banyak orang mengaitkan peristiwa tersebut dengan suhu udara yang tinggi atau keberadaan gas metana di dalam timbunan sampah. Namun, apakah metana benar-benar menjadi penyebab utama kebakaran?
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Wahyu Purwanta, menjelaskan bahwa gas metana memang meningkatkan potensi terjadinya kebakaran, tetapi tidak akan memicu api dengan sendirinya. Menurutnya, metana baru menjadi berbahaya apabila terdapat sumber penyalaan.
Ia mengibaratkan gas metana seperti bahan bakar yang sudah tersedia, tetapi tetap membutuhkan percikan api agar bisa terbakar. Karena itu, tindakan sederhana seperti membuang puntung rokok sembarangan atau adanya api terbuka di sekitar lokasi dapat menjadi awal terjadinya kebakaran di area TPA.
Metana Berasal dari Penguraian Sampah Organik
Wahyu menerangkan bahwa gas metana terbentuk melalui proses dekomposisi anaerobik, yaitu penguraian sampah organik tanpa kehadiran oksigen. Proses tersebut berlangsung pada lapisan timbunan sampah yang cukup dalam, umumnya lebih dari dua meter dari permukaan.
Sisa makanan, sayuran, dan berbagai limbah organik lainnya akan terurai secara alami dan menghasilkan gas metana. Karena terbentuk di bagian dalam timbunan sampah, gas tersebut dapat terakumulasi apabila tidak dikelola dengan baik.
Kebakaran Dipicu Kombinasi Beberapa Faktor
Meski metana mudah terbakar, Wahyu menegaskan bahwa keberadaannya bukan satu-satunya penyebab kebakaran. Sebuah kebakaran hanya dapat terjadi apabila terdapat tiga unsur utama, yakni bahan bakar, oksigen, dan sumber panas atau penyalaan.
Menurutnya, faktor yang paling sulit diidentifikasi biasanya adalah sumber api pertama. Penyalaan dapat berasal dari puntung rokok, aktivitas pembakaran di sekitar lokasi, bara api, abu panas, maupun panas yang muncul dari dalam timbunan sampah itu sendiri.
Dengan kata lain, keberadaan gas metana hanya meningkatkan risiko apabila bertemu dengan sumber api yang memicu proses pembakaran.
Pentingnya Sistem Deteksi dan Pengelolaan Gas
Untuk mengurangi potensi kebakaran, BRIN menilai pengelolaan gas metana harus dilakukan secara optimal. Salah satu caranya adalah memasang sistem pipa di dalam area TPA agar gas yang terbentuk dapat dialirkan keluar secara terkendali.
Pipa-pipa tersebut berfungsi sebagai saluran pelepasan metana sehingga gas tidak terus menumpuk di dalam timbunan sampah. Menurut Wahyu, langkah pencegahan seperti ini jauh lebih efektif dibandingkan menunggu kebakaran terjadi lalu melakukan pemadaman.
Selain pengelolaan gas, penerapan sistem deteksi dini juga dinilai penting agar peningkatan suhu atau akumulasi gas dapat diketahui lebih cepat. Dengan demikian, potensi kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir dapat diminimalkan sebelum berkembang menjadi insiden yang lebih besar.
