
Jakarta – Pola makan sehari-hari ternyata ikut menjadi perhatian dalam upaya menjaga kesehatan dan menurunkan berbagai faktor risiko kanker. Sejumlah makanan yang sering dikonsumsi bahkan dikaitkan dengan peningkatan peradangan maupun risiko penyakit tertentu jika dikonsumsi secara berlebihan.
Dr. Saurabh Sethi, ahli gastroenterologi yang menempuh pendidikan di Harvard, membahas sejumlah makanan dan minuman yang menurutnya perlu dibatasi. Ia membagikan informasi tersebut melalui media sosial dan menyoroti lima jenis makanan yang umum ditemukan dalam menu sehari-hari.
Mengutip Times of India, berikut makanan dan minuman yang perlu diperhatikan.
1. Minuman Manis
Soda, minuman kemasan, dan berbagai jenis minuman dengan tambahan gula memang mudah ditemukan. Rasanya yang manis membuat minuman tersebut digemari, tetapi konsumsi terlalu sering dapat memberikan dampak kurang baik bagi kesehatan.
Menurut Dr. Sethi, asupan gula yang tinggi dapat menyebabkan lonjakan kadar gula darah. Dalam jangka panjang, pola konsumsi tersebut juga dapat berkaitan dengan peradangan kronis dan obesitas.
Kondisi obesitas sendiri diketahui berhubungan dengan peningkatan risiko sejumlah jenis kanker, termasuk kanker payudara, pankreas, dan usus besar.
Sebagai pilihan yang lebih sehat, air putih dapat menjadi minuman utama. Air kelapa murni tanpa tambahan gula juga dapat dikonsumsi untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan sekaligus memberikan sejumlah nutrisi.
2. Makanan yang Digoreng
Gorengan menjadi makanan favorit banyak orang, tetapi metode memasaknya perlu diperhatikan. Penggunaan minyak dalam jumlah banyak dan pemanasan pada suhu tinggi dapat menghasilkan sejumlah senyawa yang tidak diinginkan.
Salah satunya adalah akrilamida yang dapat terbentuk ketika makanan tertentu dimasak pada suhu tinggi. Konsumsi makanan yang digoreng secara berlebihan juga dikaitkan dengan stres oksidatif dan peradangan.
Daripada selalu menggoreng makanan, metode seperti memanggang, mengukus, atau menggunakan air fryer dapat menjadi alternatif. Jika menggunakan minyak untuk memasak, minyak zaitun dapat digunakan dalam jumlah yang sesuai.
3. Daging yang Terlalu Gosong
Daging sebenarnya dapat menjadi sumber protein yang baik. Namun, cara memasaknya juga perlu diperhatikan, terutama jika daging dimasak hingga hangus.
Memasak daging pada suhu sangat tinggi hingga gosong dapat menghasilkan senyawa seperti heterocyclic amines (HCA) dan polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH). Senyawa tersebut dapat menyebabkan kerusakan DNA dalam kondisi tertentu.
Karena itu, daging sebaiknya tidak dimasak sampai bagian luarnya terbakar atau menghitam. Memasaknya dengan suhu lebih rendah atau menggunakan metode seperti mengukus dapat menjadi pilihan.
Jika tetap ingin memanggang daging, proses marinasi terlebih dahulu dapat membantu mengurangi pembentukan beberapa senyawa yang tidak diinginkan. Penggunaan rempah dan herba seperti rosemary atau thyme juga dapat menjadi tambahan dalam proses memasak.
4. Daging Olahan
Sosis, bacon, ham, dan produk sejenis termasuk dalam kategori daging olahan. Produk ini banyak dipilih karena praktis dan mudah diolah, tetapi konsumsi berlebihan perlu dibatasi.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan daging olahan sebagai karsinogen kelompok 1. Klasifikasi tersebut menunjukkan adanya bukti kuat mengenai hubungan konsumsi daging olahan dengan kanker pada manusia, terutama kanker kolorektal.
Dr. Sethi juga menyoroti penggunaan nitrat dan bahan pengawet dalam sejumlah produk daging olahan yang dapat berkontribusi terhadap pembentukan senyawa tertentu.
Jika membutuhkan sumber protein, daging segar tanpa lemak, ayam, ikan, serta sumber protein nabati seperti kacang-kacangan dapat menjadi alternatif.
5. Makanan Ultra-proses
Mie instan, makanan cepat saji, dan berbagai produk ultra-proses lainnya juga disarankan untuk tidak terlalu sering dikonsumsi.
Produk tersebut umumnya memiliki formulasi yang dibuat melalui berbagai proses industri dan dapat mengandung gula tambahan, lemak, garam, serta sejumlah bahan tambahan pangan.
Menurut Dr. Sethi, pola konsumsi makanan ultra-proses yang tinggi dapat berkaitan dengan peradangan kronis. Karena itu, makanan utuh atau real food seperti sayuran, buah, kacang-kacangan, dan biji-bijian dapat lebih sering dipilih untuk melengkapi pola makan.
Bukan Berarti Harus Dihindari Sepenuhnya
Kanker merupakan penyakit kompleks yang dapat dipengaruhi banyak faktor, termasuk genetik, lingkungan, gaya hidup, dan pola makan. Karena itu, satu jenis makanan tidak dapat dianggap sebagai satu-satunya penyebab kanker.
Yang lebih penting adalah memperhatikan pola konsumsi secara keseluruhan. Membatasi makanan ultra-proses, daging olahan, minuman tinggi gula, makanan yang terlalu sering digoreng, serta daging yang gosong dapat menjadi bagian dari kebiasaan makan yang lebih sehat.
Sebaliknya, perbanyak makanan utuh dengan kandungan serat dan beragam nutrisi untuk membantu memenuhi kebutuhan tubuh sehari-hari.
